Ibu A : Tumben nganter anak, Bu. Tidak kerja?

Ibu B : Iya, Bu. Saya pilih kerja di rumah saja.

Ibu A : Lo, bukannya Ibu itu bergelar sarjana. Mengapa tidak kerja kantoran? Tidak rugi gelar sarjana cuma ngurusi rumah?

Ibu B : Saya justru rugi kalau anakku diurusi pembantu yang cuma lulusan SD.

Dialog di atas bisa ditemukan di Meme atau kartun bertulis di sosial media.Dialog di atas terkesan sederhana, tetapi maknanya sungguh teramat dalam. Terdapat pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca bahwa pendidikan anak itu jauh lebih penting daripada karier seorang ibu.

Seperti telah kita ketahui bahwa akhir-akhir ini kita sering dikejutkan oleh berita kekerasan fisik dan mental yang menimpa anak-anak dan remaja. Pelakunya bisa berasal dari kaum dewasa dan bisa pula berusia anak-anak. Beragam peristiwa itu telah menghentakkan nurani kita sebagai orang tua. Kita pun dibuat tercengang karena sekolah seakan tak lagi mampu mengatasi kenakalan para siswanya. Bahkan, sekolah tak lagi dapat menjadi tempat yang aman dari tindak kekerasan.

Perilaku buruk anak-anak dan remaja itu tentu tak boleh dibiarkan. Kita harus bahu-membahu bekerja sama mendidik generasi muda agar bisa kembali menjadi pribadi bersahaja, berkarakter, dan cerdas. Apatah guna kecerdasan jika tak dibungkus dengan kepribadian mulia.

Jika diperhatikan dengan saksama, kenakalan anak-anak dan remaja itu ternyata bermula dari keluarganya. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah. Mereka tak lagi mengontrol perilaku anak-anaknya karena beragam tuntutan pekerjaan meskipun mereka mengetahui jika anak-anak mereka berada di sekolah hanya berkisar 4-6 jam per hari.

Tentu kita sepakat bahwa karakter anak dibentuk pertama kali di keluarga melalui hubungan harmonis antara ayah, ibu, dan anak. Hubungan harmonis bukanlah situasi keluarga tanpa masalah, melainkan kondisi saling pengertian yang ditunjukkan masing-masing anggota keluarga. Pada situasi yang demikian, masing-masing anggota keluarga perlu menunjukkan perannya secara tepat.

Ayah adalah kepala keluarga sehingga tanggung jawab berada di pundaknya. Sebagai seorang pemimpin, ayah harus berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, baik lahir maupun batin. Demi peran itulah, kadangkala ayah perlu bepergian jauh guna mencari nafkah. Demi peran itu pula, ayah rela meninggalkan keluarga yang dicintainya untuk kurun waktu tertentu.

Dalam keluarga, ibu adalah kepala rumah tangga. Situasi rumah sangat dipengaruhi oleh kemampuan ibu menatanya. Oleh karena itu, seorang ibu perlu memiliki jiwa seni, kesabaran, dan cerdas. Jiwa estetika diperlukan agar rumah dapat menjadi surga bagi penghuninya. Kesabaran diperlukan agar kedamaian bisa dinikmati. Seorang ibu harus cerdas karena menjadi sandaran beragam pertanyaan yang diajukan anak-anaknya.

Meskipun ayah dan ibu berbeda peran, keduanya memiliki kesamaan tujuan, yaitu mendidik buah hati. Di sinilah anak-anak akan mendapatkan pelajaran. Jika orang tuanya sudah menempatkan diri pada tugasnya, anak-anak tentu memperoleh keteladanan yang akhirnya membentuk karakternya. Keteladanan dari orang tua itu akan membekas dan mempengaruhi perilakunya sehari-hari, baik ketika berada di keluarga, komunitasnya, maupun di sekolahnya.

 Mengintip Peran Kartini

Pada konteks pendidikan anak-anak, ibu tentu lebih dominan daripada ayah. Karena ayah harus bekerja ke luar rumah, ibu perlu mengimbangi situasi itu dengan berada di rumah agar anak-anak memiliki teman yang bisa diajak bermain. Ketika anak sedang belajar dan menemui kesulitan, ibu bisa berfungsi sebagai guru. Ketika anak sedang dirundung masalah, ibu dapat menjadi konselornya. Frekuensi pertemuan ini akan membentuk dominasi karakter anak. Cara ibu memberlakukan anak akan berbanding lurus dengan karakter yang akan dibentuk.

Sayangnya, justru kaum ibu lebih memilih menyibukkan diri ke luar rumah daripada mendidik anak-anak. Beberapa alasan digunakan kaum ibu, seperti membantu mencari nafkah, jenuh di rumah, dan alasan emansipasi. Faktor ekonomi sering dijadikan alasan utama seorang ibu untuk meninggalkan rumah. Alasan ini pula yang sering membuat kaum bapak mati kutu.

Bulan April identik diperingati sebagai Hari Kartini. Untuk menyikapi kondisi ini, kita perlu belajar kepada Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi wanita yang selalu diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 21 April. Kartini bukanlah perempuan pesolek, pemalas, atau bodoh. Kartini adalah seorang istri dari Bupati Rembang yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Meskipun menyandang gelar istri bangsawan, Kartini tidak menampilkan diri sebagai perempuan pesolek. Beliau menampilkan kepribadian nan sederhana seraya menjunjung tinggi adat Jawa.

Selain itu, Kartini merupakan perempuan yang teramat rajin. Beliau selalu berusaha menata rumah tangganya agar suami betah di rumah. Sebagai istri bangsawan, Kartini sebenarnya memiliki banyak pembantu untuk menata rumah dan mengurusi segala keperluannya. Namun, kita tidak akan menemukan sejarah kekisruhan keluarga Kartini.

Kartini pun menjadi seorang perempuan yang sangat cerdas. Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan karena ayahnya adalah Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Kartini tetap tekun belajar di Europese Lagere School (ELS). Begitu menyaksikan kecerdasan istrinya, Kartini diizinkan suaminya untuk membangun sebuah sekolah wanita.

Kesempatan emas ini tak disia-siakannya. Keinginannya untuk mengangkat derajat kaum perempuan dilakukannya hingga akhir hayat. Kartini menghembuskan nafas terakhir pada usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun. Empat hari setelah melahirkan anak satu-satunya, Soesalit Djojoadhiningrat, beliau jatuh sakit dan meninggal. Masa perjuangannya memang relatif pendek, tetapi jasanya dikenang sepanjang masa.

Sekarang, marilah kita berkaca dengan kehidupan kartini-kartini modern. Dari tahun ke tahun, mereka selalu memperingati Hari Kartini dengan menggelar lomba-lomba yang tidak berkaitan dengan nilai perjuangan kartini, seperti lomba memasak, merias, atau berlenggak-lenggok memperagakan busana minim.

Kartini tidak pernah mengajarkan kebiasaan-kebiasaan konsumtif dan pamer kemewahan. Beliau merupakan perempuan dan istri tulen yang telah mengajarkan kesederhanaan penampilan, semangat belajar pantang menyerah, mendidik anak hingga ajal menjemputnya, dan mengabdikan diri sepenuh hati kepada keluarganya.

Sebaliknya, kartini-kartini modern justru berperilaku berkebalikan dengan Kartini yang diperingatinya. Kartini modern lebih mempercayai pembantu untuk mendidik anak-anaknya daripada ibu yang melahirkannya. Kartini modern lebih suka memberikan kasih sayang yang berwujud gadget atau uang daripada belaian dan perhatian. Bahkan, kartini modern berani kepada suami karena merasa mandiri secara ekonomi. Bukankah sikap itu bertolak belakang dengan peran perempuan yang pernah diperjuangkan Kartini?

Catatan:

Artikel ini telah dimuat di Koran Joglosemar, 20 April 2016

 

Advertisements