3Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengekspresikan isi pikiran, yaitu lisan dan tulisan. Ekspresi lisan memiliki beberapa kelebihan, seperti dapat dilakukan secara spontan, sedikit energy, dan dapat diketahui feedback atau umpan balik dari hadirin secara langsung. Kekurangan ekspresi lisan adalah tidak tahan lama dan memerlukan mental berbicara di depan public yang baik.

Sama halnya dengan ekspresi lisan, ekspresi tulisan juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan ekspresi tulisan yaitu tahan lama, dapat digunakan untuk menguatkan personal branding, dan dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kenaikan pangkat. Kekurangan ekspresi tulisan yaitu memerlukan banyak energy, membutuhkan pengetahuan yang luas, dan memerlukan penguasaan bahasa yang cukup. Oleh karena itu, sangat wajar jika sangat sedikit orang yang dapat menulis dengan baik.

Meskipun demikian, menurut Djuharie (2005: 120), menulis merupakan suatu keterampilan yang dapat dibina dan dilatihkan. Pada hakikatnya, semua orang bisa menulis asal mau berlatih dengan sungguh-sungguh. Karena menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan, penulis perlu memiliki keluasan pengetahuan agar tidak mengalami mati ide. Oleh karena itu, biasanya penulis yang baik adalah pembaca yang baik karena menulis pasti memerlukan pengetahuan yang cukup sebagai bahan tulisannya.

Untuk menjadi penulis, artikel dapat dipilih sebagai salah satu bentuk karya ilmiah yang paling sederhana. Sumandiria (2004) menjelaskan bahwa artikel merupakan sebuah tulisan lepas yang berisikan opini atau pendapat seseorang yang mengupas tuntas tentang sebuah masalah yang bersifat aktual dan biasanya menjadi kontroversi untuk mempengaruhi, memberi tahu, meyakinkan, dan menghibur para pembaca.

Ada lima ciri artikel, yaitu menggunakan informasi yang faktual dan aktual, berbahasa Indonesia yang komunikatif dan efektif, ulasannya padat dan tuntas, keaslian atau orisinalitas dijaga, dan dimuat media. Artikel berisi informasi yang benar-benar terjadi dan menjadi polemik atau kontroversi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, artikel disusun dengan menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari agar isi dan pesan artikel dapat ditangkap pembaca. Panjang artikel sangat dibatasi oleh redaksi sehingga isinya harus diulas secara padat dan lengkap. Penulis harus menjaga keaslian tulisannya. Jika penulis terbukti melakukan plagiasi atau penjiplakan karya orang lain, redaksi akan memberikan sanksi berat. Tentu saja artikel itu harus dimuat oleh media, baik media cetak dan atau online.

Tahapan Penulisan Artikel

Artikel dapat dikembangkan dengan empat model, yaitu mengaitkan dengan peristiwa aktual yang dimuat media bersangkutan, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, menyajikan added value, serta memperkenalkan informasi baru. Penulis dapat mengutip judul berita dan satu-dua kalimat untuk mengawali artikel. Ini adalah model yang sering dilakukan penulis.

Ada pula penulis yang menulis artikel dengan mengaitkan kegiatan sehari-harinya untuk mengawali artikelnya. Selain itu, ada pula penulis yang menyajikan added value atau nilai tambah untuk menimbulkan rasa ingin tahu pembaca. Bahkan, ada penulis yang memaparkan temuan keilmuan baru. Dari keempat model di atas, penulis akan berusaha menjaga kekhasan tulisannya. Dari sinilah, penulis akan dikenal public karena kekhasan cara mengembangkan idenya.

Ada lima tahapan pengembangan ide. Satu, menentukan judul. Judul artikel sebaiknya ditulis dengan menerapkan metode SIAP, yaitu singkat, informatif, aktual, dan persuasif. Judul artikel menggunakan tak lebih dari enam kata dan ditulis dengan huruf kecil kecuali awal kata. Judul artikel juga perlu menunjukkan informasi actual sehingga menimbulkan motivasi untuk membacanya. Informasi itu pun perlu memperhatikan aktualitas atau kekinian informasi. Selanjutnya, judul artikel perlu memiliki nilai persuasif atau mempengaruhi pembaca.

Dua, menyusun kerangka atau out line artikel. Kerangka artikel berbentukout line atau garis besar alur pengembangan materi. Kerangka ini sangat penting untuk menjaga alur pengembangan sehingga penulisannya tidak melenceng atau keluar dari topik. Ada tiga bagian yang perlu dijadikan kerangka artikel, yaitu menentukan materi, menentukan estimasi karakter, dan menentukan pola pengembangan. Materi sebaiknya memiliki keterkaitan dengan disiplin ilmu penulis agar kajiannya dapat mendalam. Pengembangan materi perlu diselaraskan dengan media yang dituju karena masing-masing media memiliki perbedaan ketentuan jumlah karakter.

Tiga, menentukan pola pengembangan. Ada tiga model alur pengembangan artikel, yaitu menentukan bagian pengantar, bagian pemaparan informasi, dan menyusun bagian penutup. Bagian pengantar adalah bagian awal artikel. Bagian ini harus mampu merangsang pembaca sehingga perlu disusun dengan data dan sumber informasi yang dijadikan dasar penulisan artikel. Bagian pemaparan informasi berisi paragraf pengembangan ide berdasarkan kerangka yang telah dibuat. Bagian ini harus memperhatikan jumlah karakter sehingga bahasanya perlu dipadatkan. Bagian penutup dapat berbentuk pernyataan simpulan, pertanyaan, dan hanging atau menggantung.

Empat, me-review dan menyunting naskah. Sebelum naskah dikirim ke media, artikel perlu dilakukan review dan penyuntingan. Review adalah membaca ulang naskah tersebut agar tidak terjadi kesalahan atau kekurangan materi. Penyuntingan adalah kegiatan menelaah artikel agar tidak terjadi kesalahan konsep dan bahasa. Kesalahan konsep dapat berakibat fatal karena menyesatkan pembaca. Kesalahan bahasa terjadi pada kesalahan penggunaan ejaan, tanda baca, dan penyusunan kalimat. Oleh karena itu, sebaiknya artikel itu dimintakan pendapat kepada ilmuwan dan bahasawan sehingga dapat terhindar dari kesalahan konsep dan bahasa.

Lima, mengirim naskah ke media. Artikel dapat dikirim dengan dua cara, yaitu menggunakan print out dan memanfaatkan email. Sebelum dikirim, artikel perlu dilengkapi dengan deskripsi riwayat penulis di bagian bawah artikel, alamat lengkap, email, fotokopi KTP/ SIM, NPWP, nomor rekening bank, dan nomor telepon. Jika dikirim berbentuk cetakan, artikel perlu dilengkapi dengan surat pengantar dan dikirim dengan menggunakan jasa kurir. Jika dikirim dengan email, artikel perlu dilengkapi dengan kata pengantar ke redaksi dengan memperhatikan kesantunan berbahasa.

Penolakan pasti pernah dialami semua penulis. Tidak ada satu pun penulis yang berhasil tanpa penolakan. Naskah ditolak tentu karena dinilai redaksi atau penerbit tidak memenuhi syarat. Syarat-syarat itu meliputi keluasan kajian, jumlah karakter atau halaman, dan kualitas bahasa. Dari penolakan inilah, penulis (baca: pengirim) bisa mempelajarinya. Maka, penolakan bukanlah hari kiamat bagi penulis. Penolakan justru dapat dijadikan tonggak untuk menjadi penulis yang hebat. ***

Catatan:

Artikel ini telah dimuat Koran Joglosemar, Kamis, 25/02/2016

Advertisements